Tampilkan postingan dengan label Liputan 09. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan 09. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2009

CRANIAL INCISORED- Sudah Menjajah Album Baru


Band asal Yogyakarta (Indonesia) sejak May’98, Cranial Incisored memainkan Oldschool death metal di era awal, dan kemudian perubahan untuk memberi lebih banyak teknis yang rumit dan jazz-fusion percobaan. Lirik tentang sci-fi, psikologi, filsafat, pikiran percobaan, dll. Setelah debut album pertama mereka “Rebuild: The Unfinished Interpretation of irrational Behavior” dirilis oleh Metal Ground Records (INA / 2003) dan Malicious Intent Records (USA / 2006), band yang beranggotakan Obet : Drums, Mal : Bass, Didiet : Vocs , Halim : Guitars sekarang mereka tampil kembali komposisi matematika yang kacau dan memberi lebih banyak sentuhan jazz dalam album terbaru mereka “Lipan’s Kinetic” yang rilis Sept 2009 (Hellavila Records). Album tersebut rencananya akan dikeluarkan melalui Symphonic Blast Productions (MY) dan segera di BVT Records (Korea Selatan).

Selasa, 08 September 2009

Melodymaker-Show Didedikasikan Untuk Para Fansnya

 
 16 Agustus 2009 bertempat di Bumi Wiyata Hall – Depok, band asal Jakarta MELODY MAKER menggelar konsernya The Revenge From Bleeding Lolita 2009 yang diikut sertakan dengan beberapa band lainnya seperti PAPERGANGSTER, FIST OF THERAPY, SIRA, NO TALENT, MARCH, dll… acara yang mungkin bisa dikatakan dengan persiapan rapih sehingga akan menghasilkan dapat terkenang dengan baik, acara dijadwalkan mulai jam 13.00wib disayangkan molor 1 jam dikarenakan MELODY MAKER sendiri melakukan check sound hampir 1 jam lebih untuk penampilan dimalam harinya dengan sempurna. beberapa band sudah mulai menghampiri dan berdatangan untuk segera tampil dan persiapan sendiri menurut Mehdy (salah satu vocalist MELODY MAKER) kita akan membawakan sekitar 12 lagu diantaranya dari album pertama, album bleeding lolita dan cover beberapa lagu cradle of filth & Dimmu Borgir dan pastinya stamina harus bisa maksimal. larut malam akhirnya tiba juga yang banyak dinantikan sekitar jam 21.30 wib MELODY MAKER tampil dengan banyak orang & teman saya penasaran dengan band tersebut, namun apa yang didapat sedikit kecewa saya mendengar sound yang tidak maksimal tidak tereksplor dengan baik mungkin dengan kapasitas tempat yang cukup besar ini seharusnya bisa lebih edan. Antusias penonton mungkin hampir semuanya adalah para family maker (sebutan fans MELODY MAKER) rata-rata adalah anak2 baru gede mmm… nice! antara menikmati dan sedikit kecewa saya malam itu, baiknya band ini mampu membuat sebuah konser tunggal dan harus bisa belajar dari apa yang sudah dijalankan lagi. sponsor, tempat sudah mendukung hanya saja disayangkan promo masih sedikit kurang… jadinya acara tersebut hambar oleh publik khususnya penikmat musik metal. salute untuk perjuangan kalian guys…!

Liturgi I : Perayaan Teror & Kemenangan

Event yang bertajuk Liturgi I: Perayaan Teror dan Kemenangan ini merupakan perayaan hari jadi yang pertama sebuah kolektif kerja berbentuk record label dan rockshop bernama Belukar. Diadakan pada tanggal 26 Juli 2009 di Musro The Sunan Hotel Solo. Acara ini diselenggarakan oleh Belukar dan The ThiNk Organizer. Sebuah kolaborasi maut dengan kualitas yang selalu terjaga.
Jam 12.00 tepat pintu masuk dibuka. Aliansi MC THE BLACK JEMANI MURDER membuka acara dengan sedikit bercerita tentang Belukar dengan teror canda tawa yang memang sudah tidak asing lagi para pecinta musik cadas Kota Solo.
ALI JAMIL sebuah band baru dari Kota Sragen tampil sebagai band pertama menggeber repertoar padat hasil karya mereka. Musik metal yang berbalut melodi Arabic menjadi ciri mereka, pula dengan lirik yang mengetengahkan perjuangan Pangeran Diponegoro menjadi nilai plus. Sebuah potensi yang patut dihargai dari kota sekecil Sragen. Meski sound gitar kurang balance, tapi crowd tampaknya tak terlalu ambil pusing dan larut dalam dansa liar.
Berikutnya adalah REMAIN SILENT, salah satu the next big thing scene cadas Kota Bengawan ini menghadirkan metalcore yang gelap dengan lirik  sarkas. Tak kurang dari tiga lagu mereka ketengahkan di hadapan 300an pengunjung yang hadir. Headbang, slam dance, moshing dan segala bentuk apresiasi tumpah ruah.
TAKE AND AWAKE mencoba menjaga tensi dengan amunisi thrash/grind yang rapat nan cepat. Tapi tampaknya crowd menyambut biasa saja. Mungkin karena kelelahan, entahlah. Bahkan lagu Rat Bastard dari What Happen Next pun hanya mampu membuat crowd berdiri dan sesekali menggoyangkan kepala. Meskipun mendapat respon yang kurang, tetapi trio Udin (bas/vokal), Lilik (gitar) dan Yogi (drum) tetap menampilkan performa terbaik mereka
FACELESS, dedengkot dari Sukoharjo menggeber komposisi metalcore dengan sentuhan death metal tanpa terjebak menjadi deathcore yang trendi. Membawakan materi dari mini album “Believed If Today Not That Finaly” serta beberapa materi baru. Meskipun tampil dengan additional vocal, akan tetapi tidak membuat mereka kehilangan pesona. Liar dan intense. Maka tak berlebihan jika banyak yang menganggap mereka adalah salah satu penampil terbaik sore itu.
Saatnya hardcore unjuk gigi dan kali ini diwakili oleh SPIRIT OF LIFE. Band yang sudah merilis album di tahun 2007 ini menampilkan moshcore tipikal ala Hatebreed dan Terror. Membawakan lagu – lagu baru yang nantinya bakal dirilis dalam album kedua mereka. Sing a long dan slam dance kembali tak terelakan, karena tampaknya crowd sudah tak asing lagi dengan lagu-lagu baru mereka.
Yang tua tetap berbahaya. MAKAM salah satu sisa generasi “Grinder Troops” tampil dengan aura penuh kegelapan. Black Metal dengan sound gitar mengiris pedih serta lirik-lirik bertemakan paganisme menjadi trademark mereka menyelimuti Musro selama kurang lebih 20 menit. Terlihat beberapa penonton yang membakar dupa demi “memeriahkan” suasana. Meskipun ternyata Djiwo sang vokalis merasa terganggu dengan asap dupa yang mengepul dan meminta agar dupa dipadamkan.
Band baru dengan personil orang-orang lama, inilah MATIUS III:II. Bayangkan Sex Pistol yang tak tahu diri memaksakan bermain industrial ala Ministry dan Nine Inch Nails dengan attitude preman pasar. Tampil dengan ugal-ugalan dan penuh makian dari mulut yang beraroma alkohol. Sangat kontras dengan lirik-lirik mereka yang terilhami dari Injil. Apalah itu terserah, karena tampaknya crowd pun tak peduli dan malah asyik masyuk dalam canda tawa dan hangar bingar beat yang cepat.
Jauh – jauh dari Ungaran, FAT IN DIET tampil dengan komposisi atmospheric melodic metalcore. Apapun itu nama genre yang mereka usung, yang pasti sore itu mereka tampil rapih dan memukau. Vokal Rahma yang prima berbalut scream/growl dari Godhot seolah ingin memamerkan bahwa mereka masih menggigit meski telah kehilangan gitaris mereka yang telah meninggal. Dan lagi-lagi sebuah potensi luar biasa dari kota yang tak terduga.
BANDOSO, salah satu garda depan black metal kota bengawan tak menyisakan ruang bernapas. Tampil dengan pemain bass baru dan menggeber materi-materi baru memaksa masa untuk terus bergerak tiada henti. Sebuah lagu dari Iron Maiden “Hallowed Be Thy Name” pun turut dibawakan. Meskipun agak annoying di awal karena sang gitaris mencoba memaksakan vokalnya yang sangat ala kadarnya.. Tampaknya mereka masih belum menampilkan performa terbaik mereka, karena sesekali permainan lead gitar dari sang gitaris terdengar kacau di hampir semua lagu. Penampilan mereka ditutup dengan single “Tikaman Nafsu” yang disambut positif oleh crowd yang sebagian besar telah familiar dengan lagu tersebut.
Sebagai penutup, kini giliran pasukan babi neraka kota bengawan DOWN FOR LIFE. Tampil dengan suasana santai dan penuh canda tanpa melupakan aksi yang memukau. Kali ini mereka tampil tanpa duo kakak beradik Sigit-Imam, dan digantikan oleh Moses (Remain Silent) dan Luluk (Sofre Moreu). Sore itu mereka menggeber repertoar-repertoar baru yang kerap dibawakan, serta satu lagu gress yang ditampilkan perdana pada sore itu bertajuk “One Town One Crown”. Ditutup dengan dengan “Tertikam Dari Belakang” yang rancak. Slam dance, moshing dan circle pit pun tak terbendung. Dan bahkan memakan “korban” kaca yang membalut salah satu tiang venue.
Dan akhirnya selesai sudah LITURGI I: Perayaan Teror dan Kemenangan. Menyisakan keringat dan semerbak alkohol serta senyum lelah terpuaskan dari semua yang berada di venue.

Semangat Yang Tak Pernah Padam Untuk Eksistensi Scane Underground Jakarta

Unit Seni & Vokal Universitas Jayabaya, Jakarta mempersembahkan sebuah event bertajuk GERILYA MUSIK UNDERGROUND 12. Event berkala yang sudah 12 kali diadakan ini sudah sangat dikenal oleh kalangan publik Underground Jakarta, selain turut mendukung eksistensi komunitas underground, event ini pun banyak melahirkan band-band baru yang cukup potensial.  Dalam kesempatan ini, event GERILYA MUSIK UNDERGROUND 12 ini diramaikan oleh Funeral Inception, Thinking Straight, Antiseptic, Sound Fight, Monkey Boots, Konflik, Stupidity, Rebel Youth, Low Attitude, Tyranny, Aksiterror, In Memoriam, Psywar, One Foot Japan, After All Over. Acara yang berlangsung ditengah teriknya matahari siang itu memainkan beberapa band yang mendapat jatah tampil awal sesuai dengan rundown acara yang sudah dibuat. Suasana disekitar Hall Univ.Jayabaya saat itu masih terlihat belum terlalu ramai, hanya beberapa kumpulan orang saja yang terlihat duduk-duduk dan beberapa yang keluar-masuk Hall. Begitupun keadaan didalam Hall tempat acara berlangsung. Tampak tidak terlalu banyak audience yang menyaksikan penampilan dari beberapa band yang tampil diwaktu awal hingga break maghrib. Pasca break maghrib, perangkat sound system kembali dinyalakan, tata lampu disekitar panggung juga disetting cukup menarik, dan perangkat gun smoke yang disediakan menambah event GERILYA MUSIK UNDERGROUND 12 kali ini terlihat diproduksi dengan cukup maksimal, meskipun tanpa adanya suntikan dana dari sponsor/korporat, hal tersebut tidak menyurutkan semangat dari para panitia untuk merealisasikan acara yang menampilkan berbagai genre musik ini
In Memoriam tampil dengan maksimal dihadapan audience malam itu, dengan menyuguhkan musikalitas progresif/rock/metal sehingga mereka membuat semua yang ada didalam Hall malam hari itu ikut menikmati musik yang mereka mainkan dan begitu serius menyimaknya. Dilanjutkan oleh beberapa band yang tampil kemudian, membuat suasana malam itu terlihat sekain ramai, tidak hanya didalam, bahkan situasi diluar kampus Univ.Jayabaya pun tampak ramai. Monkey Boots tampil begitu memukau, memancing para audience untuk berdansa bersama dalam iringan musik yang mereka mainkan. Musik ska yang pernah booming ditahun ‘98an kembali mereka mainkan, membuat sebagian orang bernostalgia bersama mereka. Suasana moshpit pun terlihat ramai. Dilanjutkan oleh Antiseptic, salah satu band pionir HC/Punk asal Jakarta ini memang sudah banyak dinantikan penampilannya. Berry cs, menggebrak dengan lagu-lagu lama milik mereka, cukup enerjik dan kencang. Dalam hal aksi panggung pun cukup mengidentitaskan bahwa mereka punkrockers, meskipun tidak dengan dandanan layaknya para streetpunk, namun secara soul sudah dapat mencerminkannya. Suasana moshpit terlihat begitu bernyawa. Setelah Antiseptic memainkan lagu terakhirnya, disusul dengan band berikutnya yang memainkan oldschool hardcore/power violence. Penampilan yang cukup menarik meskipun tanpa kehadiran seorang bass player. Beat-beat cepat dengan tanpa kompromi dimainkan, jeritan vokal yang tinggi dan cepat ala band-band 625trashcore. Sangat jarang saya melihat penampilan band-band power violence tampil dalam event musik seperti GERILYA MUSIK UNDERGROUND 12 ini, karena biasanya saya hanya bisa menyaksikannya pada gigs komunitas HC/Punk ataupun dalam sebuah acara studio show. 12 Tahun Underground bertahan & 12 Tahun pula semangat para mahasiswa Jayabaya memperjuangkan acara ini tetap berjalan.
Sebagai acara puncak dari  GERILYA MUSIK UNDERGROUND 12 ini adalah penampilan dari Funeral Inception, salah satu band Death Metal asal Jakarta yang sedang menggarap album ke-3 dan persiapan tur Malaysia dan Singapura.
Doni Iblis, pentolan band ini tampil cukup bersemangat dan enerjik, disamping para personil lainnya yang memang terlihat sudah matang mempersiapkan penampilan malam itu. Empat lagu mereka mainkan dengan sangat powerful dan kualitas sound yang bagus, membuat penampilan mereka malam itu semakin cadas. Disetiap jeda antar lagu, tak lupa Doni kerap memberi sedikit eksplanasi lagu-lagunya maupun sanjungan kepara para panitia GERILYA MUSIK UNDERGROUND 12 dan para audience yang berkesadaran untuk  turut mendukung suksesnya acara malam itu dengan membeli tiket. Akhirnya setelah lagu terakhir dituntaskan dengan cukup rapih, maka dengan itu pun acara GERILYA MUSIK UNDERGROUND 12 harus berakhir dengan banyak applause dari para band pengisi maupun para audience yang dating malam itu. Sampai jumpa di moshpit GERILYA MUSIK UNDERGROUND 13 berikutnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

VISITOR

free counters